Yang Poenya

Dodo Teguh Purwanto ST

Purwakarta

dodoteguh2.jpg

Purwakarta ku

Saya lahir di Purwokerto (Jawa Tengah) dan kedua orangtuaku juga berasal dari sana. Lama rasanya tidak pulang lagi ke sana, logat Banyumas yang Khas. Sekarang saya tinggal dan bekerja di Purwakarta (Jawa Barat), deket rasanya cuma tinggal ganti huruf a saja. Istri saya juga orang Purwakarta, katanya supaya betah kerja dan tinggal di sana harus cari pacar orang sana akhirnya cocok dan sekarang sudah menjadi istri saya.

Tak terbayang dulu bisa tinggal di Purwakarta, kota yang namanya menyamai kota Purwokerto. Kenapa ada kota kembar namanya gitu, yang satu Jawa dengan akhiran o, yang satu Sunda dengan akhiran a.

Kota ini berhawa sejuk, masih banyak pepohonan besar tumbuh di sana sini. Letak kota ini berada pada jalur perlintasan antara Jakarta-Bandung-Cirebon. Dan merupakan ujung jalan tol Jakarta – Cikampek. Kata kata yang akrab dengan Purwakarta adalah Waduk Jatiluhur.

Namun bagi yang sudah pernah tinggal di Purwakarta pasti tidak pernah akan lupa akan kenangan kenangan ini yang menjadi ciri khas Purwakarta bangets:

Sate Maranggi

Nama Maranggi bukan nama tempat tapi entah kenapa namanya Maranggi. Yang membedakan sate maranggi dengan sate lain adalah bumbu kecapnya. Pertama saya makan sate maranggi diajak istri waktu masih pacaran di daerah Plered ini yang asli katanya. Tiap lebaran saya selalu mampir ke pos sate maranggi di stasiun plered, rasanya unik dan lezat. Tapi belakangan ternyata di daerah Wanayasa ada rajanya maranggi juga malahan lebih banyak tempatnya. Akhirnya saya sering main ke daerah Wanayasa rombongan bersama teman teman untuk sekedar makan sate maranggi, dan bukan cuma saya bahkan hampir banyak orang seperti itu datang makan sate di sana untuk sekedar pesta syukuran atau mentraktir bersama teman.

Akhirnya sekarang bila anda berkunjung ke Purwakarta hampir di banyak tempat bisa ditemukan sate maranggi sate kambing yang rasanya unik tersebut dan tidak bau, makan dengan nasi timbel. Mau?

Ubi Cilembu

Kalau ini biasanya untuk oleh oleh. Orang Purwakarta sendiri jarang makan ubi ini mungkin karena bosan atau karena ada di depan mata, sehingga tidak tertarik lagi (kalau dikasih sih mau doong). Rasanya enak lezat manis asli tanpa gula. Tiap keluarga dari luar daerah yang datang, saya selalu membawakan mereka ubi cilembu dan mereka pasti senang. Di sepanjang jalan Cibungur dan sepanjang jalan Bendul ubi ini dipajang bersama sama peuyeum, celengan keramik, dan kentongan cabe.

Peuyeum Bendul

Bolehlah coba kapan kapan makan colenak di sana. Katanya asal kata dococol enak, peuyeum bakar dengan saus santan gula kelapa. Makanan khas bandung tapi ada juga di sana. Saya pikir beda rasanya. eh kok saya pikir… saya rasa!

Simping

Ini oleh oleh asli Purwakarta dengan rasa yang bermacam macam. Rasa kencur, cabe , keju, nangka, durian dan macam macam rasa lain.

Situ buleud

Sebuah danau yang terletak di tengah kota Purwakarta. Ya, danau di tengah kota. Konon (maap jangan dibalik), dahulu kala, ketika Purwakarta masih berupa hutan, danau ini sering dipakai badak-badak berendam dan kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dijadikan sebagai tempat peristirahatan pelepas lelah sehabis bekerja. Sekarang setiap Minggu tempat ini dipakai tempat ngumpulnya masyarakat kota Purwakarta, sampai menuju alun alun Kiansantang penuh oleh masyarakat yang berolah raga ada senam aerobik, mancing, lari pagi atau sekedar rekreasi atau makan pagi. Selain tempat hiburan masyarakat juga peluang usaha dagang dan jasa bagi Masyarakat.

Keramik

Saya ingat waktu nikah dulu kami memakai cinderamata sepatu kecil lucu dari keramik hasil kerajinan keramik Plered untuk ucapan terima kasihnya. Dan ada macam macam lagi hasil keramik Plered yang sudah terkenal itu, siapa sih yang tak kenal nama Plered?!!

5 Responses

  1. speedykonten Says:

    ikutan lomba SBC yuk

    owner
    http://speedykonten.blog.telkomspeedy.com

  2. Anonymous Says:

    halo..
    salam kenal…

  3. Yana Mulyana Says:

    Bener-bener membangkitkan kenangan indah purwakarta, Mas..apalagi situ buleud itu, apakah masih dikelilingi tangkal asem? tahun 73-an ketika TV masih susah, disalah satu sudut situ buleud itu ada TV yang ditampilkan untuk ditonton masyarakat..berduyun duyun masyarakat datang hanya untuk menonton TV hitam putih kala itu, Saya beserta adik serta Bapak dan Mamah setiap malam Minggu selalu hadir untuk nonton Rin tintin…Bravo Purwakarta. Salam, Yana Pekanbaru

  4. dodoteguh Says:

    Rintintin? wah itu acara favorit saya juga mas. tapi saat itu saya masih di bandung di jl. pajajaran, nonton di sana. tangkalnya masih mas tapi tipi hitam putihnya sudah disimpan mungkin sama pemerintah daerah abis nggak pernah ditonton lagi sama mas yana. mungkin mas Yana jarang pulang sekarang sudah di pekanbaru? boleh kalau ke Purwakarta lagi mampir saja di rumah saya.

  5. Hendra Says:

    Wah … malah kebalik ya mas Dodo, saya yang urang Purwakarta asli malah cari kerja jauh buanget, biasanya saya iseng-iseng cari info tentang Purwakarta, eh.. ketemu blog ini. Kalau boleh tahu Mas Dodo kerja di mana ?

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.